fainna ma'al 'usri yusraa, inna ma'al 'usri yusraa....

5 March 2017

Tolong! Pria Ini Membuatku Susah Move On!


Hahaha judulnya memancing pertanyaan banget, ya? Abaikan kalo enggak. Ialah Luis Fonsi, pria yang tak pernah gagal dengan lagu-lagunya, yang hampir selalu membuatku susah move on. Maksudnya, terus memutar lagunya berulang-ulang. Begitulah yang kulakukan setiap kali menemukan lagu dengan irama mendayu dari penyanyi latin berkebangsaan Puerto Riko ini.

Perkenalanku―ciyeee perkenalan―dengannya berawal dari sebuah lagu We Are the World versi Spanish, yaitu Somos El Mundo. Dari sekian banyak penyanyi, ada satu suara yang sangat menarik di telingaku. Setelah cari tahu ke sana-ke mari, akhirnya tahulah si empunya suara adalah sesosok pria  ganteng. Hahaha tetep, ya.

Dari situlah kemudian aku mulai mencari lagu-lagunya. Masih sangat ingat, lagu pertamanya yang kutemukan adalah Vives en Mi. Suaranya beneran powerful dan bikin klepek-klepek.


Entah, mengapa tiba-tiba terpikir untuk memilih lagu-lagunya yang telah sukses membuatku jatuh cinta pada(suara)nya. Inilah 7 lagu Luis Fonsi yang dijamin bakalan membuat susah move on jika kamu adalah penikmat lagu-lagu latin melankolis alias pop latin. Urutannya bukan berdasar apa-apa, ya, hanya yang langsung terlintas di pikiran.

1. Vives en Mi 
Ini adalah lagu pertama Luis Fonsi yang kutemukan dan kudengarkan. Langsung suka ketika pertama kali mendengarkannya, meski tak paham liriknya sama sekali. Aku tipe orang yang menilai bagus atau tidaknya sebuah lagu berdasar iramanya, bukan liriknya. Sebagus apapun liriknya, kalau aku tak suka iramanya, jangan harap aku bakal suka lagu tersebut. Subjektif banget? Iya!

2. Nunca Digas Siempre 
Merupakan lagu kedua Luis Fonsi yang kudengrkan. Sama seperti lagu pertama, ini pun sempat kuputar berulang-ulang dalam satu waktu. Ia selalu menyanyikan lagu dengan penuh penghayatan. Itulah yang membuat lagu-lagunya enak didengarkan dan ada 'jiwanya'.

3. Abrazar La Vida 
Tak seperti biasanya yang melow, lagu ini sedikit besemangat. Dan, tanpa mengandalkan google translate, aku tahu arti judulnya. Berlanjut penasaran dengan liriknya, akhirnya mencari artinya lewat lyrictranslate.com agar tidak rancu. Sesuai dengan iramanya yang sedikit bersemangat, liriknya semacam motivasi agar terus memperjuangkan mimpi dalam kehidupan.

4. Quién Te Dijo Eso
Tanpa tahu artinya, saat mendengarkannya pertama kali, entah mengapa rasanya sangat sedih. Nggrantes, begitu menurut orang Jawa. Seolah menceritakan sebuah hubungan yang mengenaskan. Dan, dari ketujuh lagu yang kusebutkan, inilah yang membuatku bukan susah lagi, melainkan gagal move on. Lagu yang dirilis lebih 10 tahun lalu ini jadi fresh saat dinyanyikan secara live pada 2015.


5. Aquí Estoy Yo
Lagu yang dinyanyikan keroyokan bersama  Aleks Syntek, Noel Schajris, dan David Bisbal. Ini juga salah satu lagu yang kuketaui arti judulnya tanpa bantuan google translate, karena kata-katanya simpel. Kalau dulu kamu sering nonton telenovela, model di MV-nya adalah seorang bintang telenovela kanak-kanak yang pernah diputar di Indonesia. Entah, lupa judulnya.


6. Vuelve a Mi Lado 
Tergabung dalam album yang sama dengan Nunca Digas Siempre, lagu ini, kadar susah dilupakannya sedikit lebih ringan dibandingkan dengan 6 lagu lainnya. Bukan berarti lagunya tak bagus, lho. Pokoknya, harus mendengarkan sendiri untuk mendapatkan feel lagu-lagu Luis Fonsi.

7. Quién Diría
Nah, yang ini sama seperti Quién Te Dijo Eso: membuat gagal move on. Dinyanyikan bersama Olga Tañon, duet mereka dapet banget. Sempat membuat mata berkaca-kaca, padahal... sekali lagi, tak tahu maknanya! 😆 Begitulah, aku sangat sentimental.

Sebenarnya, lagu-lagu Luis Fonsi ada, kok, yang kental beraroma latin. Tapi, aku lebih suka ia menyanyikan lagu-lagu pop latin dengan suaranya yang, duhh... benar-benar tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Lebay! Sampai-sampai, aku pernah membuat racauan yang terinspirasi dari lirik salah satu lagunya. Sayangnya, aku lupa dari lagu yang mana.

Baca: Kelam

Selain  iramanya yang enak didengarkan, lagu-lagu Luis Fonsi juga memiliki lirik yang mudah diikuti ketika sok-sokan ingin ikut bernyanyi. Liriknya memang berbahasa Spanyol, wajar jika banyak kata yang sebelumnya belum pernah didengar, tapi sejauh yang kusuka tetap bisa mengikuti. Karena, ada lagu-lagu latin yang walaupun iramanya slow, liriknya susah diikuti.

Sekarang sudah malas-malasan belajar Spanish, meski begitu aku masih suka mendengarkan lagu-lagu berbahasa Spanyol. Ada beberapa penyanyi yang suaranya berhasil mengobrak-abrik hatiku di antaranya adalah Pablo Alboran dengan cengkok flamenco-nya, Carlos Rivera yang menurutku warna suaranya sedikit mirip Luis Fonsi, Alex Ubago dengan suara super lembut, Adriana Lucia yang sangat menghayati juga saat menyanyi, Shakira-Ricky Martin-Enrique Iglesias yang kusukai sedari jaman belum tertarik bahasa Spanyol, dan mereka yang tak bisa disebutkan namanya satu persatu. Alibi, padahal lupa.

Jadi, di rumah kadang ada perang playlist. Aku dengan lagu-lagu Spanish, dan si ragil dengan lagu-lagu K-pop. Ia, sih, tak pernah protes dengan playlist-ku, karena memang 'ramah' di telinga. Malah, kadang ia hafal juga siapa-siapa saja penyanyinya. Berbeda denganku yang seringnya protes. Deretan lagu K-pop kurang bersahabat bagi telingaku, kecuali yang OST drama-dramanya. Tapi, seru, ya.. tak paham maknanya bukan halangan untuk menikmati musik. Karena ada yang mengatakan, "Music is the universal language of mankind." Dan, yang jelas, hidup jadi lebih berwarna karena musik.

***


Baca selengkapnya...

1 March 2017

Terima Kasih, Tom!


Masih dalam masa menghilangkan rasa sebal. Akhirnya baca buku anak-anak. Kebetulan ada bukunya Beatrix Potter yang melegenda itu. Dan, pilihan jatuh pada kisah The Tale of Tom Kitten. Meski sebelumnya pernah baca, kisah-kisah Oma Beatrix selalu bisa menghibur. Pantas saja, di luaran sana emak-emak masih banyak yang memburunya demi bisa memberikan nutrisi otak bagi buah hatinya. Sementara itu, buku-buku Oma Beatrix sudah langka di pasaran, terutama yang versi terjemahan.


Kembali ke Tom Kitten, ini kucing dan saudari-saudarinya lucu banget, deh. Tanpa bermaksud spoiler, boleh, dong, kalau aku membagi sedikit ceritanya di sini. Biar yang belum mengenal Oma Beatrix, penasaran dengan kisah-kisah lainnya. Hihihi.

The Tale of Tom Kitten merupakan buku Beatrix Potter kedua yang kubaca setelah The Tale of Benjamin Bunny. Menurutku, ceritanya lebih seru! Menceritakan kenakalan Thomas―biasa dipanggil Tom―si kucing bersama dua saudarinya, Mittens dan Moppet.

Suatu hari, ibu mereka, Bu Tabitha Twitchit akan kedatangan tamu-tamu terhormat. Maka, ibu kucing tersebut mendandani anak-anaknya dengan pakaian bagus. Tom yang semakin gemuk tak muat lagi pakaiannya sampai kancing-kancingnya terlepas, sehingga ibunya harus menjahitnya kembali.

Setelah ketiga anak kucing rapi, mereka diminta bermain ke kebun agar tak mengganggu ibunya yang sedang mempersiapkan jamuan. Namun, apa yang terjadi? Karena polah mereka yang pecicilan, tubuh Tom dan dua saudarinya jadi kotor, pakaian mereka pun terlepas.

Bu Tabitha melepas anak-anak ke kebun (sumber gambar)

Oh iya, ketika di kebun, tanpa sengaja mereka berjumpa keluarga Jemima Itik―tokoh dalam The Tale of Jemima Puddle-Duck. Pertemuan itulah yang membuat ceritanya jadi semakin seru.

bertemu rombongan Jemima (sumber gambar)

Tak lama berselang, Bu Tabitha menemukan anak-anaknya yang sudah tak berpakaian dan dekil. Ia kaget, kemudian memarahi mereka. Akhirnya, Bu Tabitha harus mengurung ketiga anaknya di kamar saat tamu-tamu terhormatnya datang, dan terpakasa berbohong anak-anaknya sedang terkena cacar air. Ya, Bu Tabitha merasa malu pada polah ketiga anaknya.

Tom diseret pulang ibunya (sumber gambar)

Ceritanya memang anak-anak banget. Sederhana tapi seru. Membaca buku anak-anak adalah sebuah hiburan tersendiri, apalagi yang banyak ilustrasinya. Membuat mood lebih membaik, dan mulai semangat bekerja lagi. Terima kasih, Tom...
***
 

Baca selengkapnya...

Mohon Bersabar, Ini Ujian...


Kalau ditanya kapan terakhir kali menangis karena masalah pekerjaan, aku lupa. Namun, aku masih ingat gara-garanya menghadapi pelanggan yang super menjengkelkan dan tak sopan dengan kata-kata yang begitu kasar. Bekerja sebagai customer service memang lekat dengan komplain dan kata-kata menyebalkan dari pelanggan. Sebenarnya sudah biasa, ibaratnya makanan sehari-hari. Berbeda dengan yang biasanya, pelanggan yang membuatku menangis itu, menurutku kata-katanya tak bisa ditolerir, sudah masuk dalam kategori penghinaan. CS juga manusia, Pak!

Sedari jaman jadi SPG hingga CS yang sudah 10 tahun lebih, tak terhitung jumlah pelanggan yang bikin baper. Menurutku, customer service merupakan ujung tombak sebuah perusahaan. Mereka harus tahan banting. Bukan tahan banting fisiknya, melainkan tahan banting hatinya. Karena tahu bagaimana rasanya sebagai CS ketika dikomplain dengan kata-kata kasar, aku tak ingin CS lain merasakan hal sama ketika aku berada di posisi sebagai pelanggan dan harus komplain ke suatu perusahaan. Komplain juga bisa dengan cara dan kata-kata yang baik, kok.


Kini, aku tak lagi menjadi CS bagi suatu perusahaan, tetapi usaha yang kujalankan tak bebas dari komplain juga. Seperti akhir-akhir ini, ada saja pelanggan yang komplain. Mulai dari barang yang belum diterima sampai komplain masalah pelayanan yang buruk. Untuk masalah paket yang belum diterima, biasa, ya, kalau pelanggan ingin barang yang dibeli cepat sampai, dan masih kuanggap wajar kalau kompalin di bawah 2 minggu, bisa segera dilacak dan difollow-up ke ekspedisi. Kalau paket nyangkut, bisa segera terdeteksi dan minta segera diantar ke pelanggan,

Nah, yang terjadi baru-baru ini bukan seperti itu. Komplain karena paket belum sampai, tapi paket tersebut sudah dikirim sejak akhir tahun lalu. Siapa yang tak kalang-kabut, coba? Musti obrak-abrik tumpukan resi, bolak-balik hubungi kantor ekspedisi pusat karena ternyata paketnya nyangkut entah ke mana. Bikin lelah hati. Untungnya, pelanggan ini komplain dengan cara baik-baik,

Yang kedua adalah pelanggan yang memang rewel. Dapat barang yang sedikit kotor karena segelnya sudah terbuka. Seharusnya ia membaca dahulu sebelum melakukan order, sudah diinfokan bahwa barang yang dijual adalah barang obral dan stok lama di gudang supplier karena tak laku. Wajar, dong, ya, kalau ada beberapa yang kondisinya tidak OK . Ia mengatakan tak tahu barang tersebut merupakan barang obral, padahal sudah jelas tertera pada judul album dengan capslock, OBRAL BLA BLA BLA. Ada banyak pelanggan yang membeli barang obral tersebut, dan tak sedikit juga yang mendapat kondisi semacam itu, namun tak ada yang komplain. Mereka sudah paham, jangan berharap dapat barang mulus saat membeli obralan. Namanya obral, kan, untung-untungan, dapat yang masih bagus, ya, alhamdulillah, kalau dapat yang cacat, ya, wajar.

jangan sampai banting laptop (sumber gambar)


Jadi, apakah kasus kedua itu yang membuatku menangis setelah sekian lama tak menangis karena masalah pekerjaan? Bukan! Yang membuatku menangis justru bukan dari komplain pelanggan. Ceritanya, kemarin pagi seperti biasa, menyalakan laptop untuk mulai bekerja, selain membuka browser, aku juga wajib membuka file berupa catatan order. Tak ada angin, tak ada hujan, file yang setiap hari kubuka tersebut mendadak tak terbaca. File-nya ada, tapi saat dibuka hanya layar kosong. Bad mood, gemas, sedih seketika. Pokoknya, nano-nano rasanya. Bukan bermaksud sombong, tapi ada banyak nama dengan pesanan yang belum sempat diberi invoice. Malangnya, aku pun belum sempat mem-backup. Padahal, kemarin seharusnya jadwal untuk packingyang lumayan mengular. Gara-gara kejadian tersebut, harus tertunda, dan seharian flashback menyususri apapun yang bisa digunakan untuk melakukan pencatatan ulang, termasuk recalling memory.

Oh iya, kembali ke kasus yang kedua soal pelanggan rewel. Sebelumnya ia memang sempat kecewa, karena aku terlambat mengirimkan barang dikarenakn saat itu overload di packingan. Ketika ia komplain, aku mengakui salah dan meminta maaf serta segera mengirimkan barangnya dengan ekspedisi yang lebih cepat, ongkir yang hampir dua kali lipat pun tak perlu diganti, karena memang kesalahan dari pihakku. Pagi tadi, saat ia komplain dapat barang sedikit cacat, ia kembali mengungkit masalah tersebut. Bagiku, masalah tersebut sudah clear. Sungguh menyebalkan jika diungkit kembali, apalagi dengan kata-kata yang tak mengenakkan.

Mohon bersabar, ini ujian. Setelah kemarin pagi sebal sampai menangis, pagi ini kembali sebal sampai rasanya ingin marah. Tapi, pengalaman sebagai CS tak bisa dipungkiri, dengan kata-kata manis, aku bisa meredakan emosi pelanggan tersebut. Berharap ia tak akan komplain macam-macam lagi.

Hal-hal tersebut sebenarnya wajar terjadi. Semakin banyak pelanggan, semakin ada saja yang komplain. Beginilah, salah satu suka-duka menjadi bakul online, Dari kasus-kasus di atas, aku jadi ingin mencari orang yang bisa membantuku dalam menjalankan perbakulan ini. Jadi, kalau baper bisa bareng-bareng, tak ditanggung sendiri. Hahaha. Semoga, diberi jalan oleh Allah, usaha ini bisa menyewa tempat sendiri, sehingga aku juga bisa merekrut bala bantuan.

Tulisan ini murni curhat di pagi hari, untuk melampiaskan kekesalan setelah dikata-katai oleh pelanggan. Jika ada yang tak sengaja membaca dan tersinggung, mohon dimaafkan. Daripada laptop melayang, mending dipijit-pijit, jadi curhatan.

***

Baca selengkapnya...

6 February 2017

Big Smile


"It's important to remember that we all have magic inside us." ~ J.K. Rowling

Big smile..

Foto di atas memang kualitasnya bisa dikatakan buruk. Selain pencahayaannya kurang, objeknya pun tak fokus alias nge-blur. Kalau hidung, jangan ditanya, dilihat dari sisi manapun tetap saja... pesek! Namun, entah mengapa, aku sangat menyukainya. Fotonya benar-benar diambil tanpa sengaja di sebuah lorong yang ditata sedemikan rupa sehingga menyerupai di dalam piramida.

Meski diambil secara candid, menurutku momennya 'dapet banget'. Ekspresiku nampak sangat bahagia. Iya nggak, sih? Bukan tanpa alasan aku memiliki ekspresi semacam itu. Ketika di bangku SMP aku sempat memiliki keinginan menjadi ahli sejarah, yang kemudian di bangku SMA keinginan tersebut semakin menguat. Mungkin, semacam obsesi. Bukan ahli sejarah lagi, melainkan lebih spesifik, yaitu arkeolog. Menjadi egyptologist pun, boleh juga. 

Jadi, di balik ekspresiku yang nampak begitu bahagia tersebut, memang ada alasan tersendiri. Saat di dalam lorong, dindingnya penuh dengan deretan huruf berupa gambar atau lambang yang pura-puranya hieroglif. Sebagai penerangan, di dalam lorong terdapat beberapa obor yang menyala dan terpasang pada dinding. Ada juga patung prajurit Mesir yang membuat bulu kuduk sedikit meremang. Merinding bukan karena takut, tapi karena excited. Pada suasana yang seperti itu, pikiranku tiba-tiba melayang kembali ke masa lalu. Ya, masa di mana terobsesi menjadi arkeolog. Berada di lorong yang sangat-sangat sederhana tersebut, sudah membuatku bahagia.  Bisa kurasakan, seolah aku seorang egyptologist yang tersenyum lebar karena telah berhasil memecahkan teka-teki hieroglif. Hahaha.

Kini, meski tak menjadi apa yang pernah kuinginkan, tak lantas kusesali. Aku tetap bisa bahagia dengan apa yang kumiliki. Ada hal-hal lain pada diri sendiri yang patut disyukuri. Kata sempurna memang sangat jauh dariku, tetapi harus selalu diingat, setiap orang memiliki keunikan. Dengan keunikan tersebut, orang bisa menjadi apapun yang membuatnya bahagia, walaupun sekedar menjadi penebar kebahagiaanya tersebut.

***

Baca selengkapnya...

31 December 2016

Mengganjilkan


Merayakan pergantian tahun di tengah keramaian bagiku it's so last year. Masa-masa tersebut sudah lewat. Sekarang, menjelang pergantian tahun begini, boro-boro keluar rumah. Bahkan, sejak seminggu sebelumnya hingga selesai musim liburan aku juga tak bakal keluar jika tak ada keperluan. Jogja kini bukanlah Jogja yang dulu. Empat tahun terakhir, Jogja sudah sangat berubah. Entah akunya yang tak bisa menerima perubahan atau memang Jogja yang bersolek terlalu menor.

Saat ini, aku tak akan membahas tentang perubahan Jogja, melainkan hanya ingin update blog. Iya, blog yang semenjak 9 bulan lalu tak pernah kujamah. Persis banget dengan masa ibu yang mengandung. Kali ini menulis juga bukan karena ada ide atau apa. Lantas, apa yang akan kutulis? Belum terpikirkan.

Aku iseng membuka blog karena merasa sangat prihatin demi melihat jumlah postingan selama 2016. Bayangkan, hanya 2 biji tulisan selama 365 hari. Menyedihkan. Ini tadi niatnya sudah mau tidur. Bohong banget, kan? Karena, meski hanya di rumah, di malam tahun baru, aku tak pernah melewatkan pesta kembang api dari berbagai penjuru mata angin. Inilah salah satu enaknya tinggal di pusat kota, tanpa pergi ke manapun, bisa mendapat hiburan gratis. Mungkin, bagi sebagian orang, kembang api memang berisik, tapi tidak bagiku. Kembang api tak akan berisik lagi ketika kita sudah melihat cahayanya pecah di angkasa.

Sekedar melihat ke belakang pada tahun 2016, aku merasa belum melakukan pencapaian apapun. Begitulah, karena aku tak pernah membuat resolusi di awal tahun. Jadi, ya, hidupku hanya mengikuti apa yang ada di depan mata. Sungguh buruk, kah, hidup dengan cara seperti ini? Aku bukannya tak memiliki mimpi, aku hanya tak membukanya kepada orang lain.

Beberapa hari lalu, seorang kawan mengatakan, "Mengapa sesekali tak mencoba membuat resolusi, Sha?" Dan, jawabanku sama persis seperti penjelasan di atas. Beberapa hari setelahnya, aku membaca tulisan Yasa Singgih―seorang pengusaha dan motivator muda―yang menceritakan setiap menjelang pergantian tahun, ia selalu membuat life goals sekaligus membaca ulang life goals yang ditulisnya pada tahun lalu. Katanya, itu membuatnya nyengir seendiri, terharu, pun merinding, karena ada banyak life goals yang ditulisnya tahun lalu, ternyata banyak yang tercapai di tahun ini.

Seolah ada yang menepuk pundakku, dan aku merasa ada bisikan, "Tuh, Sha, boleh juga dicoba, lho, membuat resolusi." Ya, ya.. kemudian aku tersadar, mungkin membuat resolusi atau life goals memang bisa memotivasi diri untuk melakukan hal yang lebih. Ibaratnya, harus ada bahan bakarnya untuk menaiki kendaraan yang bisa mengantarkan kita ke suatu tujuan. Tapi, hingga 15 menit menjelang 2017, aku belum mencoba menyusunnya juga.

Aku memilih untuk mengganjilkan jumlah tulisan di blog, ketimbang menyusun life goals 2017. Sebenarnya simpel, sih... harapanku di 2017 ini adalah bisa menghilangkan sifat pemalasku dan kebiasaan suka menunda pekerjaan. Menurutku, itulah yang selama ini menjadi sumber utama penghambat kemajuanku. Sedangkan untuk kemaslahatan bersama, aku berharap segala bentuk kekerasan fisik dan mental di tahun 2017 tak ada lagi.

Akhirnya, dengan diiringi suara kembang api yang mulai bersahut-sahutan menyerupai suara telur (mata sapi) digoreng, kuucapkan Selamat Tahun Baru 2017! Semoga, segala hal yang diharapkan, diimpikan, dicita-citakan menjadi kenyataan.
 
***


*Pagupon, 31 Desember 2016, menjelang pergantian tahun.

Baca selengkapnya...

22 March 2016

Ah, Betapa Aku Merindukanmu!


Hari ini, tepat tiga tahun kepergianmu. Dan, semua tak lagi sama. Rumah penuh kenangan yang kau tinggalkan untuk kami, telah sirna. Diratakan dengan tanah. Tak pernah kukira, ada manusia setega itu dalam hidupku. Namun, apa gunanya meratap? Rumah itu takkan kembali.

Tidak mewah, pun tidak luas, namun rumahmu menawarkan kehangatan. Meski tak ada lagi wujudnya, segala kenangan yang pernah terjadi di sana akan terus ada dalam sebuah ruangan di setiap hati kami.

radio kesayanganmu yang kuabadikan sehari sebelum kau pergi utk selamanya (dok. pribadi)

Seringkali aku lupa, ketika galau mendera, tanpa sadar ingin berlari menuju rumahmu itu, seperti dulu. Untuk menjumpaimu tentu saja. Lantas, berbagi cerita remeh-temeh bersamamu, diiringi lagu-lagu campursari atau sandiwara Jawa dari radio kesayanganmu. Hingga akhirnya, ceriaku kembali.

Ah, betapa aku merindukanmu! Apa kabarmu di rumah yang baru? Aku begitu yakin, kau jauh lebih damai dan tenteram di sana. Semoga.

***


Tertanda, 
Cucumu yang rapuh
  
Baca selengkapnya...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...