fainna ma'al 'usri yusraa, inna ma'al 'usri yusraa....
Loading...

31 December 2016

Mengganjilkan


Merayakan pergantian tahun di tengah keramaian bagiku it's so last year. Masa-masa tersebut sudah lewat. Sekarang, menjelang pergantian tahun begini, boro-boro keluar rumah. Bahkan, sejak seminggu sebelumnya hingga selesai musim liburan aku juga tak bakal keluar jika tak ada keperluan. Jogja kini bukanlah Jogja yang dulu. Empat tahun terakhir, Jogja sudah sangat berubah. Entah akunya yang tak bisa menerima perubahan atau memang Jogja yang bersolek terlalu menor.

Saat ini aku tak akan membahas tentang perubahan Jogja, melainkan hanya ingin update blog saja. Iya, blog yang semenjak 9 bulan lalu tak pernah kujamah. Persis banget dengan ibu yang mengandung. Kali ini menulis juga bukan karena ada ide atau apa. Lantas, apa yang akan kutulis? Belum terpikirkan.

Aku iseng membuka blog karena merasa sangat prihatin demi melihat jumlah postingan selama 2016. Bayangkan, hanya 2 biji tulisan selama 365 hari. Menyedihkan. Ini tadi niatnya sudah mau tidur. Bohong banget, kan? Meski hanya di rumah, di malam tahun baru, aku tak pernah melewatkan pesta kembang api dari berbagai penjuru kota. Inilah salah satu enaknya tinggal di pusat kota, tanpa pergi ke manapun, bisa mendapat hiburan gratis. Mungkin, bagi sebagian orang, kembang api memang berisik, tapi tidak bagiku. Kembang api tak akan berisik lagi ketika kita sudah melihat cahayanya pecah di angkasa.

Sekedar melihat ke belakang pada tahun 2016, aku merasa belum melakukan pencapaian apapun. Begitulah, karena aku tak pernah membuat resolusi di awal tahun. Jadi, ya, hidupku hanya mengikuti apa yang ada di depan mata. Sungguh buruk, kah, hidup dengan cara seperti ini? Aku bukannya tak memiliki mimpi, aku hanya tak membukanya kepada orang lain.

Beberapa hari lalu, seorang kawan mengatakan, "Mengapa sesekali tak mencoba membuat resolusi, Sha?" Dan, jawabanku sama persis seperti penjelasan di atas. Beberapa hari setelahnya, aku membaca tulisan Yasa Singgih―seorang pengusaha dan motivator muda―yang menceritakan setiap menjelang pergantian tahun, ia selalu membuat life goals sekaligus membaca ulang life goals yang ditulisnya pada tahun lalu. Katanya, itu membuatnya nyengir seendiri, terharu, pun merinding, karena ada banyak life goals yang ditulisnya tahun lalu, ternyata banyak yang tercapai di tahun ini.

Seolah ada yang menepuk pundakku, dan aku merasa ada bisikan, "Tuh, Sha, boleh juga dicoba, lho, membuat resolusi." Ya, ya.. kemudian aku tersadar, mungkin membuat resolusi atau life goals memang bisa memotivasi diri untuk melakukan hal yang lebih. Ibaratnya, harus ada bahan bakarnya untuk menaiki kendaraan yang bisa mengantarkan kita ke suatu tujuan. Tapi, hingga 15 menit menjelang 2017, aku belum mencoba menyusunnya juga.

Aku memilih untuk mengganjilkan jumlah tulisan di blog, ketimbang menyusun life goals 2017. Sebenarnya simpel, sih... harapanku di 2017 ini adalah bisa menghilangkan sifat pemalasku dan kebiasaan suka menunda pekerjaan. Menurutku, itulah yang selama ini menjadi sumber utama penghambat kemajuanku. Sedangkan untuk kemaslahatan bersama, aku berharap segala bentuk kekerasan di tahun 2017 tak ada lagi.

Akhirnya, dengan diiringi suara kembang api yang mulai bersahut-sahutan menyerupai suara menggoreng telur ceplok, kuucapkan Selamat Tahun Baru 2017! Semoga, segala hal yang diharapkan, diimpikan, dicita-citakan menjadi kenyataan.
 
***


*Pagupon, 31 Desember 2016, jam 23:57

Baca selengkapnya...

22 March 2016

Ah, Betapa Aku Merindukanmu!


Hari ini, tepat tiga tahun kepergianmu. Dan, semua tak lagi sama. Rumah penuh kenangan yang kau tinggalkan untuk kami, telah sirna. Diratakan dengan tanah. Tak pernah kukira, ada manusia setega itu dalam hidupku. Namun, apa gunanya meratap? Rumah itu takkan kembali.

Tidak mewah, pun tidak luas, namun rumahmu menawarkan kehangatan. Meski tak ada lagi wujudnya, segala kenangan yang pernah terjadi di sana akan terus ada dalam sebuah ruangan di setiap hati kami.

radio kesayanganmu yang kuabadikan sehari sebelum kau pergi utk selamanya (dok. pribadi)

Seringkali aku lupa, ketika galau mendera, tanpa sadar ingin berlari menuju rumahmu itu, seperti dulu. Untuk menjumpaimu tentu saja. Lantas, berbagi cerita remeh-temeh bersamamu, diiringi lagu-lagu campursari atau sandiwara Jawa dari radio kesayanganmu. Hingga akhirnya, ceriaku kembali.

Ah, betapa aku merindukanmu! Apa kabarmu di rumah yang baru? Aku begitu yakin, kau jauh lebih damai dan tenteram di sana. Semoga.

***


Tertanda, 
Cucumu yang rapuh
  
Baca selengkapnya...

20 March 2016

Quote of The Day: March 20, 2016


Dua kutipan dari dua penulis keren ini sudah lumayan lama tersimpan di ponsel. Ada niat untuk membaginya di blog, tapi sok-sokan sibuk terus. Hahaha.

quote by Paulo Coelho (dok. instagram Coelho)

Saat menemukannya, turut mengamini. Karena, aku memang pernah mengalami hal-hal remeh yang di kemudian hari menjadi begitu berarti tanpa pernah aku kira sebelumnya.

Dan, rupanya dua penulis dengan karakter, genre, dan bahkan kebangsaan yang sangat berbeda pun pernah mengalaminya. Meski kata-katanya tak sama persis, namun aku menangkap maksud yang sama.

quote by Emha Ainun Najib (dok. pribadi)

Mungkin, selama ini kita tak pernah memedulikan hal-hal kecil atau remeh. Ada baiknya, mulai menghargai hal-hal kecil yang terjadi di sekitar kita, atau mungkin melakukan hal-hal remeh yang dianggap tak berguna. Siapa yang tahu, hidup diri sendiri, hidup orang lain, dan mungkin seisi semesta ini akan berubah lebih baik karena salah satu hal remeh yang pernah kita lakukan.

***
 


Baca selengkapnya...

25 December 2015

Melepaskan


letting go... (sumber gambar)

Ah, sudahlah, kau kutinggalkan saja

Iya, kau yang selama ini tak mengacuhkanku

Awalnya masih panjang hati, kiranya kau berubah pikiran

Rupanya aku keliru, kau enggan goyah

Jangankan mendapatkanmu singgah...

Bahkan, sekedar menolehkan wajah ke hadapku pun tidak

Tinggal aku di sini, tak ingin terpuruk

Dan kini, mencoba lanjutkan langkah


*** 

Baca selengkapnya...

8 December 2015

Hujan Turun Sepanjang Jalan


Sajak oleh: Sapardi Djoko Damono

hujan turun sepanjang jalan (dok. pribadi)

Hujan turun sepanjang jalan

Hujan rinai waktu musim berdesik-desik pelan

Kembali bernama sunyi

Kita pandang: pohon-pohon di luar basah kembali

Tak ada yang menolaknya... kita pun mengerti, tiba-tiba

atas pesan yang rahasia

Tatkala angin basah tak ada bermuat debu

Tatkala tak ada yang merasa diburu-buru

***

*foto: kawasan Dago, Bandung (15.03.2015)

Baca selengkapnya...

Susah Move On


Sudah empat hari ini aku hidup tanpa smartphone. Entah sudah ke berapa kalinya smartphone yang kunamai Pluie itu bermasalah. Puncaknya adalah Jumat malam lalu, ia yang awalnya restart berulang-ulang, akhirnya pada Minggu malam benar-benar mati total. Enggan nyala kembali. Mungkin, ia sudah lelah.

"Hape-mu kui njaluk resign, Sha!" Celetuk seorang teman.

Sepertinya memang benar, sudah saatnya aku upgrade ke smartphone yang baru. Baru lho, ya, bukan canggih. Tak semua orang memerlukan gadget canggih, aku salah satunya. Dari dulu, pertimbanganku membeli ponsel bukan karena kecanggihannya, namun karena simpelnya, pun karena 'kliknya' ketika pertama kali melihatnya.

Begitu juga kali ini. Dengan berat hati, aku musti rela meninggalkan Pluie, dan beralih ke smartphone yang baru. Jangan ditanya, ya, mengapa aku tak berusaha untuk memperbaikinya dulu. Aku sudah melakukan mulai dari soft reset hingga memperbaiki dengan recovery tool. Hasilnya nihil. Alih-alih segera membeli yang baru, aku malah galau. Bukan apa-apa, aku hanya bingung akan membeli tipe yang mana. Hahaha.

Terus terang saja, aku sudah terlanjur nyaman dengan sederhananya OS Windows Phone, yang kalau tak keliru, kini sudah berganti menjadi Windows Mobile kembali. Ya, ya... aku tahu WP memang banyak kekurangan dibanding OS sebelah yang penggunanya super buanyak itu. Tapi, apa mau dikata... hati sudah terlanjur tertambat pada WP. 

adek bingung, bang... (sumber gambar)

Lalu, yang jadi masalah kemudian adalah, setelah membaca berbagai review, aku semakin bingung. Rasa-rasanya belum ada yang nyangkut lagi di hati. Bukan karena banyaknya pilihan, ya. Pilihan ponsel WP justru terbatas, makanya musti hati-hati memilih. Kadang sudah mantap akan membeli tipe A, setelah baca review kanan-kiri jadi ragu karena ternyata pilihan tersebut ada kekurangan. Buyar. Inilah yang menjadi alasan mengapa hingga kini hidupku masih tanpa smartphone. Padahal, andai saja aku mau mencoba beralih ke OS Android, mungkin tak segalau ini. Android pilihannya memang banyak, tapi kurasa takkan membuat bingung.

Namun, dari kejadian ini, aku justru menguji diri sendiri, seberapa lama mampu hidup tanpa smartphone yang ketika memilikinya, setiap saat selalu kujamah. Mulai dari sekedar gonta-ganti status BBM, browsing atau upload foto di Instagram, ngrumpi di WhatsApp, hingga yang paling penting adalah menggunakannya untuk menyimpan segala susuatu yang berkaitan dengan bakulan.

Sejauh ini, aku masih mampu bertahan. Paling beberapa teman yang ada perlu denganku saja yang sedikit protes. Untuk mengubungiku musti lewat SMS, musti keluar pulsa, bikin boros, bla bla bla...

Beginilah aku. Bagiku, jika sudah menyangkut perihal hati, seringkali susah move on, meski itu hanya tentang ponsel. *tepok jidat* Tak tahu kapan akhirnya aku bisa mengambil keputusan. Segala sesuatu membutuhkan proses. Satu yang pasti, hidupku baik-baik saja tanpa smartphone. Jadi, nikmati saja dulu masa di mana tangan kembali memegang ponsel berukuran mungil ini.

***
 
Baca selengkapnya...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...