fainna ma'al 'usri yusraa, inna ma'al 'usri yusraa....

6 February 2017

Big Smile


"It's important to remember that we all have magic inside us." ~ J.K. Rowling

Big smile..

Foto di atas memang kualitasnya bisa dikatakan buruk. Selain pencahayaannya kurang, objeknya pun tak fokus alias nge-blur. Kalau hidung, jangan ditanya, dilihat dari sisi manapun tetap saja... pesek! Namun, entah mengapa, aku sangat menyukainya. Fotonya benar-benar diambil tanpa sengaja di sebuah lorong yang ditata sedemikan rupa sehingga menyerupai di dalam piramida.

Meski diambil secara candid, menurutku momennya 'dapet banget'. Ekspresiku nampak sangat bahagia. Iya nggak, sih? Bukan tanpa alasan aku memiliki ekspresi semacam itu. Ketika di bangku SMP aku sempat memiliki keinginan menjadi ahli sejarah, yang kemudian di bangku SMA keinginan tersebut semakin menguat. Mungkin, semacam obsesi. Bukan ahli sejarah lagi, melainkan lebih spesifik, yaitu arkeolog. Menjadi egyptologist pun, boleh juga. 

Jadi, di balik ekspresiku yang nampak begitu bahagia tersebut, memang ada alasan tersendiri. Saat di dalam lorong, dindingnya penuh dengan deretan huruf berupa gambar atau lambang yang pura-puranya hieroglif. Sebagai penerangan, di dalam lorong terdapat beberapa obor yang menyala dan terpasang pada dinding. Ada juga patung prajurit Mesir yang membuat bulu kuduk sedikit meremang. Merinding bukan karena takut, tapi karena excited. Pada suasana yang seperti itu, pikiranku tiba-tiba melayang kembali ke masa lalu. Ya, masa di mana terobsesi menjadi arkeolog. Berada di lorong yang sangat-sangat sederhana tersebut, sudah membuatku bahagia.  Bisa kurasakan, seolah aku seorang egyptologist yang tersenyum lebar karena telah berhasil memecahkan teka-teki hieroglif. Hahaha.

Kini, meski tak menjadi apa yang pernah kuinginkan, tak lantas kusesali. Aku tetap bisa bahagia dengan apa yang kumiliki. Ada hal-hal lain pada diri sendiri yang patut disyukuri. Kata sempurna memang sangat jauh dariku, tetapi harus selalu diingat, setiap orang memiliki keunikan. Dengan keunikan tersebut, orang bisa menjadi apapun yang membuatnya bahagia, walaupun sekedar menjadi penebar kebahagiaanya tersebut.

***

Baca selengkapnya...

31 December 2016

Mengganjilkan


Merayakan pergantian tahun di tengah keramaian bagiku it's so last year. Masa-masa tersebut sudah lewat. Sekarang, menjelang pergantian tahun begini, boro-boro keluar rumah. Bahkan, sejak seminggu sebelumnya hingga selesai musim liburan aku juga tak bakal keluar jika tak ada keperluan. Jogja kini bukanlah Jogja yang dulu. Empat tahun terakhir, Jogja sudah sangat berubah. Entah akunya yang tak bisa menerima perubahan atau memang Jogja yang bersolek terlalu menor.

Saat ini, aku tak akan membahas tentang perubahan Jogja, melainkan hanya ingin update blog. Iya, blog yang semenjak 9 bulan lalu tak pernah kujamah. Persis banget dengan masa ibu yang mengandung. Kali ini menulis juga bukan karena ada ide atau apa. Lantas, apa yang akan kutulis? Belum terpikirkan.

Aku iseng membuka blog karena merasa sangat prihatin demi melihat jumlah postingan selama 2016. Bayangkan, hanya 2 biji tulisan selama 365 hari. Menyedihkan. Ini tadi niatnya sudah mau tidur. Bohong banget, kan? Karena, meski hanya di rumah, di malam tahun baru, aku tak pernah melewatkan pesta kembang api dari berbagai penjuru mata angin. Inilah salah satu enaknya tinggal di pusat kota, tanpa pergi ke manapun, bisa mendapat hiburan gratis. Mungkin, bagi sebagian orang, kembang api memang berisik, tapi tidak bagiku. Kembang api tak akan berisik lagi ketika kita sudah melihat cahayanya pecah di angkasa.

Sekedar melihat ke belakang pada tahun 2016, aku merasa belum melakukan pencapaian apapun. Begitulah, karena aku tak pernah membuat resolusi di awal tahun. Jadi, ya, hidupku hanya mengikuti apa yang ada di depan mata. Sungguh buruk, kah, hidup dengan cara seperti ini? Aku bukannya tak memiliki mimpi, aku hanya tak membukanya kepada orang lain.

Beberapa hari lalu, seorang kawan mengatakan, "Mengapa sesekali tak mencoba membuat resolusi, Sha?" Dan, jawabanku sama persis seperti penjelasan di atas. Beberapa hari setelahnya, aku membaca tulisan Yasa Singgih―seorang pengusaha dan motivator muda―yang menceritakan setiap menjelang pergantian tahun, ia selalu membuat life goals sekaligus membaca ulang life goals yang ditulisnya pada tahun lalu. Katanya, itu membuatnya nyengir seendiri, terharu, pun merinding, karena ada banyak life goals yang ditulisnya tahun lalu, ternyata banyak yang tercapai di tahun ini.

Seolah ada yang menepuk pundakku, dan aku merasa ada bisikan, "Tuh, Sha, boleh juga dicoba, lho, membuat resolusi." Ya, ya.. kemudian aku tersadar, mungkin membuat resolusi atau life goals memang bisa memotivasi diri untuk melakukan hal yang lebih. Ibaratnya, harus ada bahan bakarnya untuk menaiki kendaraan yang bisa mengantarkan kita ke suatu tujuan. Tapi, hingga 15 menit menjelang 2017, aku belum mencoba menyusunnya juga.

Aku memilih untuk mengganjilkan jumlah tulisan di blog, ketimbang menyusun life goals 2017. Sebenarnya simpel, sih... harapanku di 2017 ini adalah bisa menghilangkan sifat pemalasku dan kebiasaan suka menunda pekerjaan. Menurutku, itulah yang selama ini menjadi sumber utama penghambat kemajuanku. Sedangkan untuk kemaslahatan bersama, aku berharap segala bentuk kekerasan fisik dan mental di tahun 2017 tak ada lagi.

Akhirnya, dengan diiringi suara kembang api yang mulai bersahut-sahutan menyerupai suara telur (mata sapi) digoreng, kuucapkan Selamat Tahun Baru 2017! Semoga, segala hal yang diharapkan, diimpikan, dicita-citakan menjadi kenyataan.
 
***


*Pagupon, 31 Desember 2016, menjelang pergantian tahun.

Baca selengkapnya...

22 March 2016

Ah, Betapa Aku Merindukanmu!


Hari ini, tepat tiga tahun kepergianmu. Dan, semua tak lagi sama. Rumah penuh kenangan yang kau tinggalkan untuk kami, telah sirna. Diratakan dengan tanah. Tak pernah kukira, ada manusia setega itu dalam hidupku. Namun, apa gunanya meratap? Rumah itu takkan kembali.

Tidak mewah, pun tidak luas, namun rumahmu menawarkan kehangatan. Meski tak ada lagi wujudnya, segala kenangan yang pernah terjadi di sana akan terus ada dalam sebuah ruangan di setiap hati kami.

radio kesayanganmu yang kuabadikan sehari sebelum kau pergi utk selamanya (dok. pribadi)

Seringkali aku lupa, ketika galau mendera, tanpa sadar ingin berlari menuju rumahmu itu, seperti dulu. Untuk menjumpaimu tentu saja. Lantas, berbagi cerita remeh-temeh bersamamu, diiringi lagu-lagu campursari atau sandiwara Jawa dari radio kesayanganmu. Hingga akhirnya, ceriaku kembali.

Ah, betapa aku merindukanmu! Apa kabarmu di rumah yang baru? Aku begitu yakin, kau jauh lebih damai dan tenteram di sana. Semoga.

***


Tertanda, 
Cucumu yang rapuh
  
Baca selengkapnya...

20 March 2016

Quote of The Day: March 20, 2016


Dua kutipan dari dua penulis keren ini sudah lumayan lama tersimpan di ponsel. Ada niat untuk membaginya di blog, tapi sok-sokan sibuk terus. Hahaha.

quote by Paulo Coelho (dok. instagram Coelho)

Saat menemukannya, turut mengamini. Karena, aku memang pernah mengalami hal-hal remeh yang di kemudian hari menjadi begitu berarti tanpa pernah aku kira sebelumnya.

Dan, rupanya dua penulis dengan karakter, genre, dan bahkan kebangsaan yang sangat berbeda pun pernah mengalaminya. Meski kata-katanya tak sama persis, namun aku menangkap maksud yang sama.

quote by Emha Ainun Najib (dok. pribadi)

Mungkin, selama ini kita tak pernah memedulikan hal-hal kecil atau remeh. Ada baiknya, mulai menghargai hal-hal kecil yang terjadi di sekitar kita, atau mungkin melakukan hal-hal remeh yang dianggap tak berguna. Siapa yang tahu, hidup diri sendiri, hidup orang lain, dan mungkin seisi semesta ini akan berubah lebih baik karena salah satu hal remeh yang pernah kita lakukan.

***
 


Baca selengkapnya...

25 December 2015

Melepaskan


letting go... (sumber gambar)

Ah, sudahlah, kau kutinggalkan saja

Iya, kau yang selama ini tak mengacuhkanku

Awalnya masih panjang hati, kiranya kau berubah pikiran

Rupanya aku keliru, kau enggan goyah

Jangankan mendapatkanmu singgah...

Bahkan, sekedar menolehkan wajah ke hadapku pun tidak

Tinggal aku di sini, tak ingin terpuruk

Dan kini, mencoba lanjutkan langkah


*** 

Baca selengkapnya...

8 December 2015

Hujan Turun Sepanjang Jalan


Sajak oleh: Sapardi Djoko Damono

hujan turun sepanjang jalan (dok. pribadi)

Hujan turun sepanjang jalan

Hujan rinai waktu musim berdesik-desik pelan

Kembali bernama sunyi

Kita pandang: pohon-pohon di luar basah kembali

Tak ada yang menolaknya... kita pun mengerti, tiba-tiba

atas pesan yang rahasia

Tatkala angin basah tak ada bermuat debu

Tatkala tak ada yang merasa diburu-buru

***

*foto: kawasan Dago, Bandung (15.03.2015)

Baca selengkapnya...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...