fainna ma'al 'usri yusraa, inna ma'al 'usri yusraa....

11 August 2017

Quote of The Day: August 11th, 2017


"KEBAHAGIAAN. Kata itu sungguh mudah diucapkan. Semua orang tahu apa artinya, dan selalu mendambanya. Kebahagiaan itu memabukkan. Sekali mencicipinya, kita akan berusaha mati-matian mencarinya. Tapi semakin dicari, kebahagiaan rasanya semakin menjauh. Inilah awal penderitaan, karena orang yang dimabuk kebahagiaan akan terus terobsesi, terus mencari, terus kehausan, diliputi keserakahan untuk terus menenggak dan menimbun tanpa henti..." ~ Agustinus Wibowo, Titik Nol 

happiness is... (sumber gambar)
Katanya, bahagia itu sederhana. Tapi kalau sampai memabukkan berarti sudah over dosis, namanya bukan lagi bahagia melainkan derita. Orang Jawa bilang, segala sesuatunya itu 'sak madya' saja alias secukupnya, tidak (merasa) kekurangan ataupun berlebihan. Di situlah gunanya bersyukur.

***
Baca selengkapnya...

2 August 2017

Setelah 80 Purnama


farewell... (dok. pribadi)

Terima kasih untuk lebih dari 80 purnama menjadi rumah keduaku. Pertama kali menginjakkan kaki, tak pernah mengira akan sejauh ini. Rekan demi rekan telah berganti, beberapa ada yang menjadi sahabat, dan beberapa sekedar singgah.

Banyak kenangan yang takkan terlupakan. Bagiku, memasuki tempat ini bukan sekedar menjemput rejeki, pun menimba ilmu atau pengalaman. Memasuki tempat ini berarti menjadi bagian dari sebuah keluarga besar. Ya, keluarga besar dengan segala warna-warni karakter penghuninya.

Sudah terlalu nyaman berada di tempat ini, hingga musti beberapa kali berpikir saat akan meninggalkannya. Sampai akhirnya, dengan keteguhan hati, mantap meninggalkan zona nyamanku.

Ini bukanlah sebuah akhir, melainkan permulaan. Bismillah...


***

*Tulisan yang sebenarnya sudah tersimpan sejak 10 bulan lalu, namun baru diunggah sekarang...

Baca selengkapnya...

19 June 2017

Lelah Kecewa


Maafkan aku yang jatuh cinta padamu. Iya, kamu yang bebas, tak terjangkau, begitu jauh. Sungguh, aku tak ingin ini terjadi. Percaya atau tidak, rasa ini muncul begitu saja. Dalam hitungan sepersekian detik selepas suatu hal terjadi. Bukan, bukan jatuh cinta pada pandangan pertama. Ini mungkin semacam akumulasi rasa yang tertimbun sejak bertahun lalu.

Aku pun tak percaya ini terjadi. Secara logika, ini mustahil. Ah, mungkin aku memang terlalu membawa perasaanku. Tapi, rasa ini tak mampu kuhapuskan. Semakin menolak, semakin sulit musnah. Aku nyaris gila. Bermalam-malam sulit memejamkan mata. Dan, parahnya terkadang tiba-tiba menangis. Menangis karena sebal, mengapa hatiku tak mampu menolak. Menangis karena takut akan kecewa lagi pada perasaan tak berbalas,  seperti yang sudah-sudah.

Aku benci jatuh cinta, meski itu fitrah manusia. Aku benci jatuh cinta, karena tiap kali merasakannya, selalu diikuti dengan patah hati, sakit hati, kecewa. Cinta yang kurasakan selalu satu pihak saja, tak pernah berbalas. Aku lelah patah dan sakit hati, aku lelah kecewa. Aku tak ingin jatuh cinta lagi.

akankah harapan ini tumbuh menjadi kenyataan? (sumber gambar)

Ketika tak ingin jatuh cinta lagi, mengapa Tuhan justru meniupkan perasaan ini secara tiba-tiba. Benar-benar tanpa diduga, apalagi direncana. Tunas sayang yang masih sangat hijau, masih bisa dihitung dengan hitungan hari. Entah, hingga kapan perasaan yang (mungkin) tak berbalas ini mampu bertahan.

Sejujurnya, aku sangat berharap kali ini perasaanku akan berbalas. Aku ingin Tuhan membuatmu jatuh cinta padaku secara tiba-tiba juga. Tanpa kauinginkan, pun tak bisa kautolak. Perasaan yang melampaui akal sehatmu. Semakin kautolak, semakin kau tak mampu menghilangkanku dari hati serta pikiranmu. Oh, Tuhan, bolehkah harapan ini dikabulkan?

***

*racauan yang muncul selepas mengetahui sepenggal kisah dari satu tokoh pada novel

Baca selengkapnya...

5 March 2017

Tolong! Pria Ini Membuatku Susah Move On!


Hahaha judulnya memancing pertanyaan banget, ya? Abaikan kalo enggak. Ialah Luis Fonsi, pria yang tak pernah gagal dengan lagu-lagunya, yang hampir selalu membuatku susah move on. Maksudnya, terus memutar lagunya berulang-ulang. Begitulah yang kulakukan setiap kali menemukan lagu dengan irama mendayu dari penyanyi latin berkebangsaan Puerto Riko ini.

Perkenalanku―ciyeee perkenalan―dengannya berawal dari sebuah lagu We Are the World versi Spanish, yaitu Somos El Mundo. Dari sekian banyak penyanyi, ada satu suara yang sangat menarik di telingaku. Setelah cari tahu ke sana-ke mari, akhirnya tahulah si empunya suara adalah sesosok pria  ganteng. Hahaha tetep, ya.

Dari situlah kemudian aku mulai mencari lagu-lagunya. Masih sangat ingat, lagu pertamanya yang kutemukan adalah Vives en Mi. Suaranya beneran powerful dan bikin klepek-klepek.


Entah, mengapa tiba-tiba terpikir untuk memilih lagu-lagunya yang telah sukses membuatku jatuh cinta pada(suara)nya. Inilah 7 lagu Luis Fonsi yang dijamin bakalan membuat susah move on jika kamu adalah penikmat lagu-lagu latin melankolis alias pop latin. Urutannya bukan berdasar apa-apa, ya, hanya yang langsung terlintas di pikiran.

1. Vives en Mi 
Ini adalah lagu pertama Luis Fonsi yang kutemukan dan kudengarkan. Langsung suka ketika pertama kali mendengarkannya, meski tak paham liriknya sama sekali. Aku tipe orang yang menilai bagus atau tidaknya sebuah lagu berdasar iramanya, bukan liriknya. Sebagus apapun liriknya, kalau aku tak suka iramanya, jangan harap aku bakal suka lagu tersebut. Subjektif banget? Iya!

2. Nunca Digas Siempre 
Merupakan lagu kedua Luis Fonsi yang kudengrkan. Sama seperti lagu pertama, ini pun sempat kuputar berulang-ulang dalam satu waktu. Ia selalu menyanyikan lagu dengan penuh penghayatan. Itulah yang membuat lagu-lagunya enak didengarkan dan ada 'jiwanya'.

3. Abrazar La Vida 
Tak seperti biasanya yang melow, lagu ini sedikit besemangat. Dan, tanpa mengandalkan google translate, aku tahu arti judulnya. Berlanjut penasaran dengan liriknya, akhirnya mencari artinya lewat lyrictranslate.com agar tidak rancu. Sesuai dengan iramanya yang sedikit bersemangat, liriknya semacam motivasi agar terus memperjuangkan mimpi dalam kehidupan.

4. Quién Te Dijo Eso
Tanpa tahu artinya, saat mendengarkannya pertama kali, entah mengapa rasanya sangat sedih. Nggrantes, begitu menurut orang Jawa. Seolah menceritakan sebuah hubungan yang mengenaskan. Dan, dari ketujuh lagu yang kusebutkan, inilah yang membuatku bukan susah lagi, melainkan gagal move on. Lagu yang dirilis lebih 10 tahun lalu ini jadi fresh saat dinyanyikan secara live pada 2015.


5. Aquí Estoy Yo
Lagu yang dinyanyikan keroyokan bersama  Aleks Syntek, Noel Schajris, dan David Bisbal. Ini juga salah satu lagu yang kuketaui arti judulnya tanpa bantuan google translate, karena kata-katanya simpel. Kalau dulu kamu sering nonton telenovela, model di MV-nya adalah seorang bintang telenovela kanak-kanak yang pernah diputar di Indonesia. Entah, lupa judulnya.


6. Vuelve a Mi Lado 
Tergabung dalam album yang sama dengan Nunca Digas Siempre, lagu ini, kadar susah dilupakannya sedikit lebih ringan dibandingkan dengan 6 lagu lainnya. Bukan berarti lagunya tak bagus, lho. Pokoknya, harus mendengarkan sendiri untuk mendapatkan feel lagu-lagu Luis Fonsi.

7. Quién Diría
Nah, yang ini sama seperti Quién Te Dijo Eso: membuat gagal move on. Dinyanyikan bersama Olga Tañon, duet mereka dapet banget. Sempat membuat mata berkaca-kaca, padahal... sekali lagi, tak tahu maknanya! 😆 Begitulah, aku sangat sentimental.

Sebenarnya, lagu-lagu Luis Fonsi ada, kok, yang kental beraroma latin. Tapi, aku lebih suka ia menyanyikan lagu-lagu pop latin dengan suaranya yang, duhh... benar-benar tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Lebay! Sampai-sampai, aku pernah membuat racauan yang terinspirasi dari lirik salah satu lagunya. Sayangnya, aku lupa dari lagu yang mana.

Baca: Kelam

Selain  iramanya yang enak didengarkan, lagu-lagu Luis Fonsi juga memiliki lirik yang mudah diikuti ketika sok-sokan ingin ikut bernyanyi. Liriknya memang berbahasa Spanyol, wajar jika banyak kata yang sebelumnya belum pernah didengar, tapi sejauh yang kusuka tetap bisa mengikuti. Karena, ada lagu-lagu latin yang walaupun iramanya slow, liriknya susah diikuti.

Sekarang sudah malas-malasan belajar Spanish, meski begitu aku masih suka mendengarkan lagu-lagu berbahasa Spanyol. Ada beberapa penyanyi yang suaranya berhasil mengobrak-abrik hatiku di antaranya adalah Pablo Alboran dengan cengkok flamenco-nya, Carlos Rivera yang menurutku warna suaranya sedikit mirip Luis Fonsi, Alex Ubago dengan suara super lembut, Adriana Lucia yang sangat menghayati juga saat menyanyi, Shakira-Ricky Martin-Enrique Iglesias yang kusukai sedari jaman belum tertarik bahasa Spanyol, dan mereka yang tak bisa disebutkan namanya satu persatu. Alibi, padahal lupa.

Jadi, di rumah kadang ada perang playlist. Aku dengan lagu-lagu Spanish, dan si ragil dengan lagu-lagu K-pop. Ia, sih, tak pernah protes dengan playlist-ku, karena memang 'ramah' di telinga. Malah, kadang ia hafal juga siapa-siapa saja penyanyinya. Berbeda denganku yang seringnya protes. Deretan lagu K-pop kurang bersahabat bagi telingaku, kecuali yang OST drama-dramanya. Tapi, seru, ya.. tak paham maknanya bukan halangan untuk menikmati musik. Karena ada yang mengatakan, "Music is the universal language of mankind." Dan, yang jelas, hidup jadi lebih berwarna karena musik.

***


Baca selengkapnya...

1 March 2017

Terima Kasih, Tom!


Masih dalam masa menghilangkan rasa sebal. Akhirnya baca buku anak-anak. Kebetulan ada bukunya Beatrix Potter yang melegenda itu. Dan, pilihan jatuh pada kisah The Tale of Tom Kitten. Meski sebelumnya pernah baca, kisah-kisah Oma Beatrix selalu bisa menghibur. Pantas saja, di luaran sana emak-emak masih banyak yang memburunya demi bisa memberikan nutrisi otak bagi buah hatinya. Sementara itu, buku-buku Oma Beatrix sudah langka di pasaran, terutama yang versi terjemahan.


Kembali ke Tom Kitten, ini kucing dan saudari-saudarinya lucu banget, deh. Tanpa bermaksud spoiler, boleh, dong, kalau aku membagi sedikit ceritanya di sini. Biar yang belum mengenal Oma Beatrix, penasaran dengan kisah-kisah lainnya. Hihihi.

The Tale of Tom Kitten merupakan buku Beatrix Potter kedua yang kubaca setelah The Tale of Benjamin Bunny. Menurutku, ceritanya lebih seru! Menceritakan kenakalan Thomas―biasa dipanggil Tom―si kucing bersama dua saudarinya, Mittens dan Moppet.

Suatu hari, ibu mereka, Bu Tabitha Twitchit akan kedatangan tamu-tamu terhormat. Maka, ibu kucing tersebut mendandani anak-anaknya dengan pakaian bagus. Tom yang semakin gemuk tak muat lagi pakaiannya sampai kancing-kancingnya terlepas, sehingga ibunya harus menjahitnya kembali.

Setelah ketiga anak kucing rapi, mereka diminta bermain ke kebun agar tak mengganggu ibunya yang sedang mempersiapkan jamuan. Namun, apa yang terjadi? Karena polah mereka yang pecicilan, tubuh Tom dan dua saudarinya jadi kotor, pakaian mereka pun terlepas.

Bu Tabitha melepas anak-anak ke kebun (sumber gambar)

Oh iya, ketika di kebun, tanpa sengaja mereka berjumpa keluarga Jemima Itik―tokoh dalam The Tale of Jemima Puddle-Duck. Pertemuan itulah yang membuat ceritanya jadi semakin seru.

bertemu rombongan Jemima (sumber gambar)

Tak lama berselang, Bu Tabitha menemukan anak-anaknya yang sudah tak berpakaian dan dekil. Ia kaget, kemudian memarahi mereka. Akhirnya, Bu Tabitha harus mengurung ketiga anaknya di kamar saat tamu-tamu terhormatnya datang, dan terpakasa berbohong anak-anaknya sedang terkena cacar air. Ya, Bu Tabitha merasa malu pada polah ketiga anaknya.

Tom diseret pulang ibunya (sumber gambar)

Ceritanya memang anak-anak banget. Sederhana tapi seru. Membaca buku anak-anak adalah sebuah hiburan tersendiri, apalagi yang banyak ilustrasinya. Membuat mood lebih membaik, dan mulai semangat bekerja lagi. Terima kasih, Tom...
***
 

Baca selengkapnya...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...