fainna ma'al 'usri yusraa, inna ma'al 'usri yusraa....
Loading...

22 March 2016

Ah, Betapa Aku Merindukanmu!


Hari ini, tepat tiga tahun kepergianmu. Dan, semua tak lagi sama. Rumah penuh kenangan yang kau tinggalkan untuk kami, telah sirna. Diratakan dengan tanah. Tak pernah kukira, ada manusia setega itu dalam hidupku. Namun, apa gunanya meratap? Rumah itu takkan kembali.

Tidak mewah, pun tidak luas, namun rumahmu menawarkan kehangatan. Meski tak ada lagi wujudnya, segala kenangan yang pernah terjadi di sana akan terus ada dalam sebuah ruangan di setiap hati kami.

radio kesayanganmu yang kuabadikan sehari sebelum kau pergi utk selamanya (dok. pribadi)

Seringkali aku lupa, ketika galau mendera, tanpa sadar ingin berlari menuju rumahmu itu, seperti dulu. Untuk menjumpaimu tentu saja. Lantas, berbagi cerita remeh-temeh bersamamu, diiringi lagu-lagu campursari atau sandiwara Jawa dari radio kesayanganmu. Hingga akhirnya, ceriaku kembali.

Ah, betapa aku merindukanmu! Apa kabarmu di rumah yang baru? Aku begitu yakin, kau jauh lebih damai dan tenteram di sana. Semoga.

***


Tertanda, 
Cucumu yang rapuh
  
Baca selengkapnya...

20 March 2016

Quote of The Day: March 20, 2016


Dua kutipan dari dua penulis keren ini sudah lumayan lama tersimpan di ponsel. Ada niat untuk membaginya di blog, tapi sok-sokan sibuk terus. Hahaha.

quote by Paulo Coelho (dok. instagram Coelho)

Saat menemukannya, turut mengamini. Karena, aku memang pernah mengalami hal-hal remeh yang di kemudian hari menjadi begitu berarti tanpa pernah aku kira sebelumnya.

Dan, rupanya dua penulis dengan karakter, genre, dan bahkan kebangsaan yang sangat berbeda pun pernah mengalaminya. Meski kata-katanya tak sama persis, namun aku menangkap maksud yang sama.

quote by Emha Ainun Najib (dok. pribadi)

Mungkin, selama ini kita tak pernah memedulikan hal-hal kecil atau remeh. Ada baiknya, mulai menghargai hal-hal kecil yang terjadi di sekitar kita, atau mungkin melakukan hal-hal remeh yang dianggap tak berguna. Siapa yang tahu, hidup diri sendiri, hidup orang lain, dan mungkin seisi semesta ini akan berubah lebih baik karena salah satu hal remeh yang pernah kita lakukan.

***
 


Baca selengkapnya...

25 December 2015

Melepaskan


letting go... (sumber gambar)

Ah, sudahlah, kau kutinggalkan saja

Iya, kau yang selama ini tak mengacuhkanku

Awalnya masih panjang hati, kiranya kau berubah pikiran

Rupanya aku keliru, kau enggan goyah

Jangankan mendapatkanmu singgah...

Bahkan, sekedar menolehkan wajah ke hadapku pun tidak

Tinggal aku di sini, tak ingin terpuruk

Dan kini, mencoba lanjutkan langkah


*** 

Baca selengkapnya...

8 December 2015

Hujan Turun Sepanjang Jalan


Sajak oleh: Sapardi Djoko Damono

hujan turun sepanjang jalan (dok. pribadi)

Hujan turun sepanjang jalan

Hujan rinai waktu musim berdesik-desik pelan

Kembali bernama sunyi

Kita pandang: pohon-pohon di luar basah kembali

Tak ada yang menolaknya... kita pun mengerti, tiba-tiba

atas pesan yang rahasia

Tatkala angin basah tak ada bermuat debu

Tatkala tak ada yang merasa diburu-buru

***

*foto: kawasan Dago, Bandung (15.03.2015)

Baca selengkapnya...

Susah Move On


Sudah empat hari ini aku hidup tanpa smartphone. Entah sudah ke berapa kalinya smartphone yang kunamai Pluie itu bermasalah. Puncaknya adalah Jumat malam lalu, ia yang awalnya restart berulang-ulang, akhirnya pada Minggu malam benar-benar mati total. Enggan nyala kembali. Mungkin, ia sudah lelah.

"Hape-mu kui njaluk resign, Sha!" Celetuk seorang teman.

Sepertinya memang benar, sudah saatnya aku upgrade ke smartphone yang baru. Baru lho, ya, bukan canggih. Tak semua orang memerlukan gadget canggih, aku salah satunya. Dari dulu, pertimbanganku membeli ponsel bukan karena kecanggihannya, namun karena simpelnya, pun karena 'kliknya' ketika pertama kali melihatnya.

Begitu juga kali ini. Dengan berat hati, aku musti rela meninggalkan Pluie, dan beralih ke smartphone yang baru. Jangan ditanya, ya, mengapa aku tak berusaha untuk memperbaikinya dulu. Aku sudah melakukan mulai dari soft reset hingga memperbaiki dengan recovery tool. Hasilnya nihil. Alih-alih segera membeli yang baru, aku malah galau. Bukan apa-apa, aku hanya bingung akan membeli tipe yang mana. Hahaha.

Terus terang saja, aku sudah terlanjur nyaman dengan sederhananya OS Windows Phone, yang kalau tak keliru, kini sudah berganti menjadi Windows Mobile kembali. Ya, ya... aku tahu WP memang banyak kekurangan dibanding OS sebelah yang penggunanya super buanyak itu. Tapi, apa mau dikata... hati sudah terlanjur tertambat pada WP. 

adek bingung, bang... (sumber gambar)

Lalu, yang jadi masalah kemudian adalah, setelah membaca berbagai review, aku semakin bingung. Rasa-rasanya belum ada yang nyangkut lagi di hati. Bukan karena banyaknya pilihan, ya. Pilihan ponsel WP justru terbatas, makanya musti hati-hati memilih. Kadang sudah mantap akan membeli tipe A, setelah baca review kanan-kiri jadi ragu karena ternyata pilihan tersebut ada kekurangan. Buyar. Inilah yang menjadi alasan mengapa hingga kini hidupku masih tanpa smartphone. Padahal, andai saja aku mau mencoba beralih ke OS Android, mungkin tak segalau ini. Android pilihannya memang banyak, tapi kurasa takkan membuat bingung.

Namun, dari kejadian ini, aku justru menguji diri sendiri, seberapa lama mampu hidup tanpa smartphone yang ketika memilikinya, setiap saat selalu kujamah. Mulai dari sekedar gonta-ganti status BBM, browsing atau upload foto di Instagram, ngrumpi di WhatsApp, hingga yang paling penting adalah menggunakannya untuk menyimpan segala susuatu yang berkaitan dengan bakulan.

Sejauh ini, aku masih mampu bertahan. Paling beberapa teman yang ada perlu denganku saja yang sedikit protes. Untuk mengubungiku musti lewat SMS, musti keluar pulsa, bikin boros, bla bla bla...

Beginilah aku. Bagiku, jika sudah menyangkut perihal hati, seringkali susah move on, meski itu hanya tentang ponsel. *tepok jidat* Tak tahu kapan akhirnya aku bisa mengambil keputusan. Segala sesuatu membutuhkan proses. Satu yang pasti, hidupku baik-baik saja tanpa smartphone. Jadi, nikmati saja dulu masa di mana tangan kembali memegang ponsel berukuran mungil ini.

***
 
Baca selengkapnya...

29 November 2015

Terbangun


Lima bulan lebih vakum menulis itu rasanya semacam jadi orang bodoh dan tolol―padahal memang begitu. Saat ingin mulai menulis lagi, susahnya minta ampun. Susah dapat niatnya, apalagi dapat idenya. Pokoknya benar-benar blank. Apa iya aku ini sebegitu sibuknya?

sepi (sumber gambar)

Sesekali coba merunut ke belakang. Dulu meski tak sering, aku lumayan rutin menulis tiap bulannya. Dan, itu semua biasanya dilakukan di tengah-tengah kesibukan macul. Lha, kalau sekarang? Entahlah, seolah tak ada ruang dan jeda dalam bekerja yang bisa kugunakan untuk sekedar menulis.

Apakah aku telah jadi orang sibuk? Enggak juga. Mungkin lebih tepatnya orang sok sibuk. Akhir-akhir ini merasa susah banget membagi waktu antara macul, bakulan, dan waktu untuk memanjakan diri sendiri alias me time. Bagiku, menulis merupkan salah satu cara untuk memanjakan diri sendiri. Dan sekarang, aku kehilangan hak tersebut. Hiks.

Kali ini, gara-gara tidur terlalu awal, aku pun terbangun di dini hari yang sepi. Belum bisa memejamkan mata kembali. Pandangan hanya di awang-awang, kosong. Akhirnya kunyalakan laptop saja, dan asal menulis begini tak mengapa, daripada ketap-ketip tak jelas.

Semoga, dari racauan dini hari ini, aku bisa menemukan kembali niat untuk menulis. Meski sekedar menulis hal remeh-temeh, seperti biasanya. Ya, semoga! 

***

Pagupon dini hari, 29 November 2015

Baca selengkapnya...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...