Selamat Datang, Selamat Tersesat!

24 October 2017

Merengkuh Damai di Alam Prambanan


Jika dulu kawasan Prambanan hanya identik dengan sebuah candi megah nan eksotis peninggalan kerajaan Hindu beserta gugusan candi-candi kecil lainnya yang tersebar di seantero kecamatan, maka kini tak lagi sama. Kecamatan Prambanan bersolek semakin cantik melalui wisata-wisata alamnya yang mulai menggeliat dan menjadi sumber pengharapan baru bagi warga sekitar untuk meningkatkan taraf hidup.

Beruntungnya warga Sleman, memiliki Bapak Sri Purnomo yang merakyat. Selain sangat peduli pada kesejahteraan serta kemakmuran warganya, Bapak Bupati ini juga berkomitmen untuk selalu memberi perhatian pada sektor pariwisata Sleman, terutama pariwisata yang bertumbuh dari kekreatifan serta kegiatan masyarakat. Contohnya, seperti yang akan kami kunjungi siang itu.

Flashback seminggu lalu, seorang kawan mengirimkan sebuah pesan singkat, berupa tawaran dolan bareng untuk para blogger di DIY, lebih tepatnya familiarization trip atau sering disebut fam trip saja, yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata serta Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Sleman dalam rangka memperkenalkan destinasi-destinasi wisata baru di Sleman. Seketika, langsung kuiyakan.

Dua hari kemudian, Kamis 19 Oktober 2017, sekitar jam 12.00 kami berkumpul di lobi The Rich Hotel seperti yang telah ditentukan. Dan, setelah mengisi presensi, tepat jam 12.30, bus pariwisata yang sudah disediakan memulai perjalanan dengan menyurusi jalan lingkar utara menuju ke arah timur. Tujuan kami adalah menjelajah kawasan Prambanan, sebuah kecamatan di Sleman yang berada paling timur, berbatasan dengan Kabupaten Klaten.


'Gerbang' Itu Bernama Breksi

Sekitar 2015, di Kecamatan Prambanan muncul sebuah objek wisata baru berupa bongkahan batu raksasa yang dituturkan oleh Bapak Eko Suhargono―Camat Prambanan, tersusun oleh tumpukan endapan debu vulkanis dari erupsi maha dahsyat Gunung Semilir yang terbawa angin jutaan tahun lalu. Awalnya, kawasan ini merupakan sebuah penambangan batu. Namun, karena jika dilakukan penambangan terus-menerus akan berdampak buruk pada alam sekitar, maka kemudian dihentikan. Warga sekitar yang sebelumnya bertumpu pada hasil tambang tak hilang akal. Mereka mengubahnya menjadi tempat wisata. Ialah Taman Tebing Breksi, yang tanpa butuh waktu lama menjadi sangat populer di kalangan wisatawan dan digemari oleh segala usia.

kemegahan breksi yang mengingatkanku pada petra di yordania (dok. pribadi)

Hari itu, Tebing Breksi menjadi tempat transit kami sebelum melanjutkan penjelajahan. Setiba di Breksi yang tepatnya terletak di Desa Sambirejo, dengan mengenakan pakaian adat Jawa berupa surjan dan kain jarit, lengkap dengan blangkon serta selop, Bapak Sri Purnomo serta Bapak Eko Suhargono telah lebih dulu tiba. Begitu rombongan lengkap, keduanya melakukan press conference yang langsung kami simak. Bapak Camat menjelaskan banyaknya wisata-wisata alam di kawasan Prambanan yang muncul setelah Tebing Breksi dibuka, dan jika dijelajahi semuanya tak akan cukup hanya dalam satu hari, apalagi beberapa jam. Tapi beliau menyatakan, siap mengantar jika teman-teman blogger akan menjelajahi semuanya.

bapak camat prambanan dan bapak bupati sleman (dok, pribadi)

Kawasan Prambanan ini konturnya berbukit-bukit, sehingga kebanyakan wisata alam di sana adalah berupa bukit di ketinggian. Tak ingin wisatawan hanya berfokus pada Breksi yang bisa dikatakan sebagai gerbang atas kemunculan tempat-tempat wisata alam lain di sekitarnya, maka Bapak Camat menggerakkan warganya untuk mengeksplorasi potensi wisata di masing-masing dusun. Bahkan, beliau juga rajin mempromosikan wisata-wisata baru di daerahnya, salah satunya bersama Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman dengan menggandeng para blogger, untuk menebarkan pesona kecantikan Prambanan yang belum banyak terekspos.

rombongan jip yang akan berangkat (dok. pribadi)

Setelah diputuskan tiga tujuan yang akan dikunjungi, kami segera bergerak menuju jip yang telah disediakan. Bukan tanpa alasan menjelajah menggunakan jip. Tujuan-tujuan kami terletak di perbukitan, dengan kemiringan jalan yang lumayan, beberapa dusun juga belum memiliki infrastuktur yang memadai, jadi memang lebih efektif jika menjangkaunya dengan jip. Jangan salah kira, ya, kalau jip ini khusus untuk rombongan dari Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman. Bukan, deretan jip yang ada di Tebing Breksi sengaja disewakan atas inisiasi warga sekitar untuk para wisatawan yang ingin lebih mengeksplorasi wisata alam di kawasan Prambanan. Mereka membandrol harga sesuai dengan panjang atau pendeknya rute yang ditempuh. Harga berkisar antara 250 ribu hingga 500 ribu. Disarankan memang datang ramai-ramai, selain lebih seru, biaya sewanya juga bisa patungan. Lumayan menghemat dana, kan.


Saujana dari Puncak Selo Langit

Masih terletak di Desa Sambirejo, tepatnya di Dusun Gedhang Atas, Selo Langit bisa ditempuh dalam waktu sekitar 10 menit dari Tebing Breksi. Jalanan semakin menanjak, dan terkadang melintasi jalan kecil di tengah pemukiman penduduk, jadi tidak disarankan menggunakan kendaraan beroda empat selain jip. Bagi para pemburu sunrise, Selo Langit merupakan salah satu titik sempurna untuk mengabadikan terbitnya matahari dari kaki langit sebelah timur.

Di saat siang, dari puncak bukit ini pun menyuguhkan panorama yang sangat cantik dan memanjakan mata. Sejauh mata memandang, hamparan hijau di mana-mana. Ditambah lagi cuaca cerah dan semilir angin, semakin jatuh hati, lah, pada pesonanya.

gardu pandang dari susunan bambu di selo langit (dok. pribadi)

Ketika tiba di tempat ini, yang pertama menarik perhatianku adalah keberadan semacam gardu pandang, namun tidak tinggi, yang terbuat dari susunan bambu. Dari atas bambu-bambu tersebut, aku bisa menyaksikan hamparan hijau di bawah, yang membentang di timur jauh, berupa sawah-sawah dan pemukiman penduduk. Sedangkan ketika mendongakkan kepala, ada sesuatu yang meruah di dalam hati: rasa bahagia. Bisa dikatakan, aku pencinta langit biru. Dan, hari itu aku beruntung, langit sangat cerah. Berdiri di atas bukit Selo Langit, aku bisa menikmati parade berbagai awan, dari cirrus, cumulus, hingga cumulonimbus.

sejauh mata memandang  (dok. pribadi)

menikmati parade awan (dok. pribadi)

Hal lain yang menarik adalah susunan dua batu besar yang jika dilihat dari sisi tertentu akan menyerupai payung, sehingga ada beberapa yang menyebut tempat ini dengan Watu Payung. Namun, menurut Bapak Camat, bukan karena hal tersebut dinamakan Watu Payung. Dulunya, batu tersebut berukuran sangat besar dan di bawahnya terdapat rongga yang konon pernah digunakan warga sekitar sebagai tempat berlindung di masa penjajahan, persis seperti fungsi payung. Kini, ukuran batu tersebut semakin menyusut, dan oleh para pengunjung seringkali dinaiki atau dipijak sebagai tempat narsis yang ketika difoto seolah berada di angkasa.

berdiri di angkasa (dok. pribadi)

para blogger sedang mengabadikan momen (dok. pribadi)

Untuk mengantisipasi kemungkinan patah atau retak, maka di bawahnya ditambahkan sebuah batu sebagai penopang. Dan agar tampak artistik, batu tersebut diukir dengan bentuk naga. Mengambil dari mitologi Jawa Kuno, bahwa naga merupakan makhluk pelindung.

naga sebagai pelindung dalam mitologi jawa kuno (dok pribadi)

Fakta yang baru kuketahui tentang Selo Langit, menurut penjelasan Bapak Camat lagi, dulunya merupakan kaldera atau kawah gunung api purba yang masih satu rangkaian dengan Gunung Semilir dan Nglanggeran di kawasan Gunungkidul.


Bukit Teletubbies yang Warna-warni

Selepas puas menikmati pemandangan dari ketinggian Selo Langit, kami bergerak ke arah barat daya menuju Desa Sumberharjo. Perjalanan saat itu, medannya lebih asyik dan rutenya lebih panjang. Sepanjang perjalanan, deretan pepohonan di kanan-kiri sangat memanjakan mata. Sungguh berbeda dengan pemandangan di pusat kota yang penuh hiruk-pikuk kendaraan. Terkadang, kami juga melintasi pemukiman penduduk. Aku sempat melihat beberapa warga yang sedang beraktivitas, seperti memperbaiki jalan, menggarap ladang, mempersiapkan hajatan, dan sebagainya. Sangat manusiawi, ya.

melintasi hijaunya pepohonan (dok pribadi)

Sekitar 30 menit kemudian, kami tiba di Dusun Nglepen. Ada apakah di sana? Lagi-lagi, kami akan menuju ketinggian, ke Bukit Teletubbies. Tak sepert Selo Langit yang terbentuk secara alamiah, tempat ini lebih cocok disebut sebagai taman di atas bukit. Lantas, apakah memang berwarna-warni? Hehehe... jadi, yang berwarna bukan bukitnya, melainkan tulisan berupa nama lokasi yang seringkali digunakan untuk berfoto-ria. Dulu, ikon seperti itu mungkin hanya 'HOLLYWOOD' di Hollywood Hills dan 'I amsterdam' di Vondelpark, namun kini di Indonesia pun kita bisa menjumpainya. Hampir setiap tempat wisata, memiliki tulisan semacam itu. Selain sebagai tempat berfoto bagi para pengunjung, ikon tersebut juga sebagai branding tempat wisata.

jangan cari tinky-winky dkk kalo di sini, nggak bakal ketemu.. (dok. pribadi)

Dari atas Bukit Teletubbies ini, di kejauhan kami bisa melihat deretan rumah dome yang kini berwarna-warni. Kompleks rumah berbentuk kubah tersebut terdapat di kaki bukit. Berjumlah 30 unit, rumah tersebut dibangun dengan bantuan dana dari sebuah komunitas di Amerika ketika Yogyakarta dan sekitarnya dihantam gempa hebat pada Mei 2006 lalu. Rumah dome inilah yang kemudian menginspirasi nama bukit yang berada di atasnya. Dalam film anak Teletubbies, tokoh-tokohnya tinggal dalam sebuah rumah yang berbentuk seperti dome atau kubah kalau dalam bahasa Indonesia.

gardu pandang di bukit teletubbies (dok. pribadi)

gazebo untuk bersantai (dok. pribadi)

Tujuh tahun lalu, aku dan kawan-kawan Komunitas Canting sempat wara-wiri ke Sumberharjo, untuk bermain sambil belajar bersama anak-anak di sebuah sanggar yang awal berdirinya merupakan posko relawan khusus untuk trauma healing anak-anak korban gempa. Sanggar anak tersebut bernama Studio Biru―masih eksis hingga sekarang, yang terletak di Dusun Sengir.

foto bersama dengan bapak bupati dan bapak camat (dok. wilda/icha)

Setiap kali menuju dan pulang dari Studio Biru, pasti melewati kompleks rumah dome. Kala itu, catnya masih putih polos. Kemarin, ketika aku kembali ke sana, rumah-rumah dome tersebut sudah menjelma cantik, dengan dinding dan atap yang berwarna-warni. Menurut Bapak Camat, pengecatan tersebut belum lama dilakukan, baru sekitar sebulan lalu, disponsori oleh sebuah perusahaan cat ternama di Indonesia. Kini, tujuh unit rumah dome juga bisa disewa sebagai homestay, tiga unit beralih fungsi sebagai kantor pengelola desa wisata, dan sisanya masih dihuni penduduk setempat. Jadi, kalau ada pengunjung yang ingin merasakan hidup seperti Teletubbies, ehh... maksudnya ingin merasakan hidup di pedesaan dengan hawa yang masih asri, segar, dan romantis, bisa banget menyewa rumah dome.

taman di atas bukit (dok. pribadi)

Mengetahui bahwa para pengunjung wisata masa kini tak bisa lepas dari media sosial di manapun berada, maka pengelola desa wisata Bukit Teletubbies menyediakan fasilitas free wi-fi. Gardu pandang untuk melihat indahnya kota dari ketinggian, ada; taman dengan rerumputan hijau untuk berlarian anak-anak, ada; beberapa gazebo yang bisa digunakan untuk bersantai sembari menikmati bekal yang dibawa dari rumah, ada. Pokoknya, tempat piknik yang sangat menyegarkan pikiran, menurutku. Akan lebih paripurna lagi jika bukit ini dilengkapi ayunan yang akan menambah romantis suasana.


Memetik Senja di Ketinggian Klumprit

Membutuhkan sedikit tenaga lebih untuk menjangkau tempat ini. Setelah jip berhenti di jalan beraspal, kami masih harus berjalan menyusuri pematang sawah dan ladang milik warga yang kian jauh, lintasannya semakin menanjak dan semakin sempit. Salut untuk Bapak Bupati dan Bapak Camat yang tetap bersemangat meski mengenakan kain jarit serta selop.

trekking menuju bukit klumprit (dok. bajalanan.com)

Sempat meng-underestimate tempat ini ketika sudah sampai di atas, tapi masih di bibir bukitnya, belum finish di puncak. Meski sebelumnya Bapak Camat sudah menjelaskan Bukit Klumprit merupakan tempat sempurna untuk menikmati sunset, aku masih bertanya-tanya dalam hati, 'nggak ada apa-apa di sini, mau ngapain?' Karena, di sana tanahnya memang tandus dan tak ada tanda-tanda bahwa tempat tersebut merupakan tempat wisata. Hanya tampak bakal pohon-pohon jagung, yang sempat dipertanyakan oleh seorang kawan, bagaimana besok membawanya kalau sudah panen? Yang kemudian kutimpali, "Mereka sudah biasa dengan medan yang seperti ini, jadi mungkin bawa hasil panen ke bawah, ya, enjoy saja, mbak."

menemukan kedamaian dalam menanti senja  (dok. pribadi)

Namun, ketika tiba di puncak, penilaianku keliru besar. Sama seperti Selo Langit, bukit yang terletak di Dusun Klumprit, Desa Wukirharjo, ini terdiri atas bebatuan berukuran lebar dan pipih. Rupanya, tempat ini benar-benar menghadap ke barat. Kami tiba di sana kurang lebih jam 16.45, sinar matahari masih terasa hangat di pipi. Sembari menanti proses matahari menghilang di balik garis cakrawala, kami asyik berfoto-foto.

bapak camat dan bapak bupati turut menanti senja (dok. wilda/icha)

Obrolan Bapak Bupati dan Bapak Camat juga menarik untuk disimak. Bapat Camat menceritakan kalau pernah ada yang menyarankan Bukit Klumprit sebagai tempat perkemahan, namun ditolaknya karena beliau belum bisa menjamin ketersediaan air di sekitarnya. Seperti yang beberapa kali disebutkan sebelumnya, Bapak Camat kembali menyampaikan pada kami, jika suatu saat ada kawan-kawan blogger yang ke kawasan Prambanan lagi, asalkan diminta, beliau siap mengantarkan menjelajah ke lokasi lain, meski mungkin hanya mengantar dua orang.

memetik senja (dok. sasha)

Waktu terus bergerak. Perlahan warna langit menjadi temaram, angin yang tadinya sepoi-sepoi berhembus semakin kencang, dan hawa dingin kian terasa. Matahari mulai beranjak menuju peraduannya, pelan-pelan. Tampak beberapa ibu pencari dedaunan pakan ternak menuruni bukit untuk kembali ke rumahnya. Ketika itu, suasana terasa magis dan damai sekali. Kawan-kawan blogger ada yang menikmatinya sambil berdiri, sambil duduk, bahkan sembari rebah di atas batu. Semua menikmati kedamaiannya masing-masing.

meski malu-malu, yang dinanti muncul juga (dok. pribadi)

Sayangnya, awan tebal yang menggelayut membuat senja petang itu kurang sempurna. Matahari tersipu malu dari balik awan-awan tebal yang menutupinya. Alih-alih kecewa, aku justru sangat menikmati keindahan warna jingga di ufuk barat sana. Perjuangan kami untuk mencapai puncak tak sia-sia. Setelah puas mengabadikan, menjaring, memetik, memungut senja, atau entah apalah istilahnya, dan sebelum hari benar-benar menjadi gelap, diiringi samar-samar adzan magrib, kami menuruni bukit menuju ke jip.


Kembali ke Titik Awal

Menembus hari yang semakin gelap, rombongan jip kembali ke Tebing Breksi. Sesampainya di Breksi, ternyata suasana masih lumayan ramai oleh wisatawan. Lampu-lampu di tebing telah dinyalakan, dan masih saja ada yang mengabadikan momen diri dengan latar tebing.

Kegiatan hari itu ditutup dengan makan malam bersama yang lagi-lagi termasuk fasilitas dari Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman.

breksi di malam hari (dok. pribadi)

Setengah hari menjelajah kecantikan alam Prambanan, rasa-rasanya, kok, masih kurang, ya. Hahaha. Intinya, suatu saat musti kembali lagi, terutama ke Bukit Klumprit. Tiga tempat yang kami jelajahi hari itu memiliki kesamaan, yaitu ketiganya memiliki suasana yang begitu tenang. Sangat direkomendasikan sebagai tempat melepas kejenuhan dan menemukan damai yang mungkin tak bisa dijumpai di perkotaan. Kalau kata orang Jawa, ngenggar-enggar penggalih, mengistirahatkan pikiran dari rutinitas serta kesibukan yang memburu, sejenak mengalihkan kegalauan yang enggan menghilang.

salah satu kedamaian yang kujumpai (dok. pribadi)

Tak kenal, maka tak sayang. Jika belum mengunjungi langsung, jangan memercayai omonganku ini. Jadi, memang wajib ke sana untuk merasakan sendiri sensasi kedamaiannya. Buktikanlah!

Terima kasih banyak untuk Bapak Bupati Sleman, Bapak Camat Prambanan, Dinas Pariwisata serta Dinas Perindustian dan Perdagangan Kabupaten Sleman atas kesempatan mengikuti fam trip yang  berubah menjadi fun trip, karena benar-benar mengasyikkan. Terima kasih juga untuk kawan-kawan blogger dan kawan-kawan media atas kebersamaannya, meski tidak sempat mengenal satu-persatu.

Ke depannya, semoga geliat pariwisata Kabupaten Sleman, khususnya yang muncul dari kegiatan masyarakat di pedesaan akan semakin berkembang dan bisa menjadi salah satu penopang utama kesejahteraan warga.

***



Baca selengkapnya...

8 September 2017

Me vs Chocolate


sudah akur dengan cokelat... (dok. pribadi)

Aku bukan pencinta cokelat, bahkan dulu sempat sangat memusuhi dan menghindarinya. Pada masa tersebut, bagiku cokelat itu jahat. Dalam riwayat kesehatanku, cokelat pernah menjadi salah satu makanan pencetus migrain, meski hanya sedikit mengonsumsinya. 

Pernah suatu kali, makan keripik pisang cokelat khas Lampung yang membuat jari-jemari enggan berhenti menyomot dari kemasannya, hingga tanpa sadar aku menghabiskannya. Pikirku, ah, bukan cokelat dalam wujud asli, hanya ekstraknya saja, jadi nggak apa-apa. Ternyata, oh, ternyata... beberapa jam kemudian migrain tetap kumat.

Sebagai orang yang doyan makan apa saja, ada kalanya, kan, pengin juga menikmati cokelat, tapi terhalang rasa takut. Keadaan seperti itu berlangsung lumayan lama. Sampai kemudian aku bosan, dan percaya, nggak percaya, akhirnya mencoba mengubah sugesti, bahwa makan cokelat tidak akan menyebabkan migrain kumat. 

Alhamdulillah, setelahnya hingga kini kalau makan cokelat beserta turunannya, nggak menimbulkan migrain lagi, asal tahu diri alias nggak kebanyakan. Jadi, sekarang sudah berkawan dengan cokelat, dong, meski bukan karib.

My body hears everything my mind says. Stay positive!

***

Baca selengkapnya...

11 August 2017

Quote of The Day: August 11th, 2017


"KEBAHAGIAAN. Kata itu sungguh mudah diucapkan. Semua orang tahu apa artinya, dan selalu mendambanya. Kebahagiaan itu memabukkan. Sekali mencicipinya, kita akan berusaha mati-matian mencarinya. Tapi semakin dicari, kebahagiaan rasanya semakin menjauh. Inilah awal penderitaan, karena orang yang dimabuk kebahagiaan akan terus terobsesi, terus mencari, terus kehausan, diliputi keserakahan untuk terus menenggak dan menimbun tanpa henti..." ~ Agustinus Wibowo, Titik Nol 

happiness is... (sumber gambar)
Katanya, bahagia itu sederhana. Tapi kalau sampai memabukkan berarti sudah over dosis, namanya bukan lagi bahagia melainkan derita. Orang Jawa bilang, segala sesuatunya itu 'sak madya' saja alias secukupnya, tidak (merasa) kekurangan ataupun berlebihan. Di situlah gunanya bersyukur.

***
Baca selengkapnya...

2 August 2017

Setelah 80 Purnama


farewell... (dok. pribadi)

Terima kasih untuk lebih dari 80 purnama menjadi rumah keduaku. Pertama kali menginjakkan kaki, tak pernah mengira akan sejauh ini. Rekan demi rekan telah berganti, beberapa ada yang menjadi sahabat, dan beberapa sekedar singgah.

Banyak kenangan yang takkan terlupakan. Bagiku, memasuki tempat ini bukan sekedar menjemput rejeki, pun menimba ilmu atau pengalaman. Memasuki tempat ini berarti menjadi bagian dari sebuah keluarga besar. Ya, keluarga besar dengan segala warna-warni karakter penghuninya.

Sudah terlalu nyaman berada di tempat ini, hingga musti beberapa kali berpikir saat akan meninggalkannya. Sampai akhirnya, dengan keteguhan hati, mantap meninggalkan zona nyamanku.

Ini bukanlah sebuah akhir, melainkan permulaan. Bismillah...


***

*Tulisan yang sebenarnya sudah tersimpan sejak 10 bulan lalu, namun baru diunggah sekarang...

Baca selengkapnya...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...